12 Aug 2026

Yogyakarta, 12 Agustus 2026 — Poltekkes Kemenkes Yogyakarta terus berkomitmen memperkuat penerapan manajemen risiko melalui kegiatan Road Show Manajemen Risiko sebagai langkah strategis dalam membangun budaya sadar risiko sekaligus meningkatkan kualitas tata kelola di lingkungan satuan kerja. Kegiatan Road Show kali ini diselenggarakan di Jurusan Gizi bertempat di Ruang Poerwo Soedarmo pada Rabu Legi, 12 Agustus 2026 diikuti oleh seluruh civitas akademika Jurusan Gizi. Kegiatan tersebut turut melibatkan Tim Manajemen Risiko Direktorat, Satuan Pengawas Internal (SPI), serta unit terkait lainnya.
Penerapkan manajemen risiko merupakan bagian dari tata kelola organisasi yang mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1354/2024 tentang Penerapan Manajemen Risiko di Lingkungan Kementerian Kesehatan, serta regulasi dan kebijakan terkait di lingkungan.
Manajemen risiko tidak hanya menjadi tanggung jawab pimpinan atau unit tertentu, tetapi merupakan bagian dari tanggung jawab seluruh jajaran manajemen dan pegawai. Oleh karena itu, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta mendorong terbentuknya Budaya Sadar Risiko (BSR) yang diwujudkan melalui komitmen pimpinan untuk mempertimbangkan risiko dalam setiap pengambilan keputusan, komunikasi yang berkelanjutan kepada seluruh jajaran organisasi, pemberian penghargaan kepada unit atau pegawai yang mampu mengelola risiko dengan baik, serta integrasi manajemen risiko ke dalam proses bisnis organisasi.
Manajemen risiko di Poltekkes Kemenkes Yogyakata dilaksanakan sebagai bagian terpadu dari manajemen organisasi, termasuk dalam SPIP, perencanaan strategis, manajemen kinerja, dan penganggaran. Proses tersebut melibatkan seluruh jajaran manajemen dan pegawai. Secara umum, proses manajemen risiko terdiri atas tujuh tahapan utama: Penetapan cakupan, konteks, dan kriteria, Identifikasi risiko, Analisis risiko, Evaluasi risiko, Perlakuan atau pengendalian risiko, Pemantauan, pencatatan, dan pelaporan, Komunikasi dan konsultasi
Dengan demikian, keberhasilan manajemen risiko bukan hanya ditentukan oleh keberadaan dokumen atau profil risiko, tetapi juga oleh komitmen seluruh sivitas dan pegawai untuk menjadikan kesadaran risiko sebagai bagian dari budaya kerja sehari-hari. Manajemen risiko yang diterapkan secara konsisten diharapkan mampu memperkuat tata kelola, meningkatkan kinerja, menjaga keberlangsungan organisasi, serta mendukung terwujudnya penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas di Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
Kontributor : Vitria Dwi Wulansari
Jurusan Gizi